Pin Kainara

Pin Kainara

Tanda mata sederhana saat Expo Peduli Autisme 2010

See Resource Link...Download PDF
Latest News
Pin Kainara
Tanda mata sederhana saat Expo Peduli Autisme 2010
Christien Ismuranty: Menyatukan Dua "Passion"
KOMPAS.com - Tak pernah terbayangkan oleh Christien Ismuranty, bahwa suatu ketika ia akan memutuskan berhenti dari kariernya yang mapan, dan memilih menjadi full time mother. Bukan sekadar menjadi ibu rumah tangga, perempuan 42 tahun ini juga mendedikasikan dirinya untuk mengasuh putra keduanya, Kay (6,5), yang merupakan anak berkebutuhan khusus.

Ketika Kay didiagnosa dengan autisme pada usia 2 tahun, Christien jelas merasa terpukul. Kariernya tengah di puncak ketika itu. Ia sudah 10 tahun bergabung dengan Yayasan Kehati, lembaga swadaya masyarakat untuk pelestarian keanekaragaman hayati. Jabatan terakhirnya adalah Program Manager untuk Program Konservasi Pelestarian dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati. Tahun 2008, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan memilih untuk fokus menangani Kay dengan segala kebutuhannya.

Sebagai penyandang autisme, Kay memang membutuhkan perhatian ekstra. Dari segi pola makan, misalnya, penyandang autisme biasanya harus menjalani diet gluten (protein pada gandum) dan casein (protein pada susu sapi). Gandum, tepung terigu, susu sapi, keju, yogurt, gula pasir, bahan pengawet, dan margarin, adalah beberapa bahan makanan yang harus dihindari. Mengonsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan tersebut akan membuat anak penyandang autisme menjadi hiperaktif, emosional, susah fokus, sesak nafas, diare, atau sulit tidur.

Selain itu, anak autisme biasanya juga senang pilih-pilih makanan (picky eater). Hal ini membuat orangtua harus putar otak untuk menyiapkan menu makanan yang tak hanya disukai anak, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizinya. Namun dari pergaulan dengan sesama orangtua dari penyandang autisme, perempuan enerjik ini mengetahui problem yang mendasar: makanan yang bebas gluten dan casein tidak mudah didapat, produk yang ada biasanya merupakan produk impor yang harganya mahal, kalaupun sudah dibeli belum tentu anak mau makan, dan lain sebagainya.

Problem ini mendorong Christien untuk turun ke dapur dan bereksperimen dengan bahan-bahan makanan untuk menciptakan aneka makanan pokok maupun snack khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Setelah menyadari pentingnya menyediakan menu makanan yang bervariasi untuk special kids, pada tahun 2010 Christien memberanikan diri untuk mengembangkan bisnis toko makanan sehat untuk individu berkebutuhan khusus, yang diberinya nama Kainara.

"Bisnis ini dikembangkan dari kebutuhan anak penyandang autisme. Saya membuat sendiri produk cake dan cookies-nya, dari hasil membongkar-pasang resep yang sudah ada. Misalnya, margarin diganti minyak sayur," ujar sarjana ilmu perikanan dari Institut Pertanian Bogor ini.

Christien mengakui, latar belakangnya di bidang konservasi alam amat membantunya mengakses para petani yang menghasilkan bahan-bahan alami yang ditanam tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Ia menggunakan tepung dan pati dari umbi-umbian seperti garut (arrowroot), ubi, singkong, ganyong, kimpul (talas-talasan), dan uwi. Tepung dan pati umbi ini diolah menjadi berbagai makanan tradisional dan modern seperti bakwan, bakso, nugget, emping, mi, kerupuk, abon, juga cookies, cake, bolu, pie, hingga muffin. Kecuali cake dan cookies, semua produk ini dipesannya dari produsen lain dengan spesifikasi yang dibuatnya.

Social entrepreneurship
Karena berbasis kebutuhan khusus, Kainara secara sadar dijalankan bukan untuk mencari keuntungan. Hubungan yang terjalin dengan konsumen pun bukan sekadar hubungan penjual dan pembeli, melainkan hubungan pertemanan dengan keinginan untuk saling berbagi informasi. Produk dibuat secara customized, atau sesuai pesanan pelanggan, sehingga tidak diproduksi secara massal. Bahkan bila ada pelanggan yang hanya memesan satu toples cookies pun, Christien tetap melayani. Ia rajin membagikan sampel kepada pelanggan untuk meminta feedback, apakah produk tersebut rasanya enak dan disukai anak.

Dalam sebulan, Christien berhasil menjual antara 200-300 toples cookies. Setelah stok terjual habis, biasanya ia baru memproduksi lagi. Ia sengaja tidak mempromosikan produknya secara khusus, agar tidak kewalahan melayani pesanan, dan agar kualitas produk tetap terjaga. Penggunaan bahan-bahan khusus umumnya membuat harga produk Kainara lebih mahal daripada produk makanan atau snack biasa.

"Sebenarnya bukan masalah harganya mahal atau murah, tapi anak mau makan nggak? Harga produk sebenarnya juga tidak bisa dibilang mahal, karena saya untung tipis saja. Lagipula, bisnis ini belum bisa besar, saya masih memberi harga eceran. Saya masih butuh feedback untuk mengembangkan produk ini," tutur Christien, yang memiliki daftar pelanggan lengkap dengan permintaan khusus mereka.

Christien menyadari bahwa Kainara lebih merupakan social entrepreneurship, yang lebih dijalankan dengan tujuan sosial. Kainara menjadi bisnis dengan niche market yang memiliki nilai tambah. Namun dengan segala keterbatasan tersebut, ibu dua anak ini sudah memiliki sekitar 200-an pelanggan yang tersebar di Jakarta, Medan, Bali, Surabaya, Pekanbaru, Makassar, dan Kalimantan. Pelanggannya pun bukan lagi hanya penyandang autisme, tetapi juga orang-orang yang mengidap alergi, diabetes, celiac disease, atau yang sekadar ingin berdiet.

Passion tidak luntur
Produk Kainara saat ini memang sudah makin dikenal. Namun sebelum mencapai kondisi ini, Christien harus melalui masa transisi yang cukup berat. Jelas, bukan perkara gampang melakukan penyesuaian dari aktivitas berkarier yang padat menjadi seorang ibu rumah tangga. Christien sempat mengalami semacam culture shock akibat perubahan ritme kehidupan yang drastis. Jika sebelumnya waktunya tersita untuk pekerjaan, bahkan harus sering lembur pada akhri minggu dan melakukan perjalanan dinas keluar kota, kini ia menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

"Awalnya memang cukup kaget, dan saya seperti menghadapi stres yang baru. Cukup membuat depresi, tetapi saat itu rasanya saya tak punya waktu untuk berlarut-larut dalam depresi. Saya langsung fokus untuk memelajari sesuatu yang baru, dunia autisme," papar perempuan yang memperoleh beasiswa British Chevening Awards untuk melanjutkan studi Environment di Imperial College London ini.

Meski begitu ia sangat bersyukur, karena aktivitas yang dilakukannya dengan Kainara masih amat bersinggungan dengan dunia konservasi alam yang menjadi passion-nya selama ini. "Passion saya selama ini adalah konservasi. Orang yang mengenal saya tahu bahwa 100 persen hidup saya untuk konservasi. Ternyata, value dan passion saya tidak luntur. Kini saya mendapat passion baru tentang dunia autisme, menemukan link antara keduanya. Saya menyadari, kalau passion itu sudah melekat di dalam diri kita, dan menemukan kaitan-kaitannya, kita nggak perlu dipaksa-paksa lagi untuk menyukainya. Dengan aktivitas saya sekarang, saya justru lebih dapat memaknai konservasi," tuturnya pada Kompas Female.

Christien bahkan tidak merasa meninggalkan dunianya yang sebelumnya, karena meskipun kini sibuk mengembangkan Kainara di sela-sela menemani Kay menjalani terapi, ia juga masih aktif sebagai pembina di Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Ia masih kerap mengikuti pertemuan-pertemuan, menggarap proyek lepas, atau menjadi pembicara di seminar-seminar.

Tekanan yang sempat dirasakannya pada masa transisi kini berubah menjadi tekanan yang dinamis, karena ia merasakan tantangan yang baru. Semua pengalaman ini terasa menyenangkan, dan karena dilakukan dengan total, bahagia, dan tanpa paksaan, justru memberikan energi positif baginya. Ia mendapat banyak teman baru yang saling memberi penguatan dan harapan.

"Saya sama sekali tidak menyesal dengan keputusan berhenti bekerja. Saya merasa lebih utuh sekarang. Dulu saya tidak pernah punya waktu untuk hidup saya (karena terlalu sibuk bekerja), seperti tidak punya dunia lain. Namun sekarang saya memasuki dimensi baru dalam hidup saya, saya punya teman-teman ibu arisan, bisa hang out bareng, dan masih aktif di yayasan. Saya masih ingin hidup saya berarti untuk orang lain," paparnya.

Mendedikasikan hidupnya untuk Kay dan membantu orangtua para penyandang autisme yang lain tidak dianggapnya sebagai suatu pengorbanan, melainkan suatu pengkayaan hidup. Dan Christien sangat bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari keluarganya, untuk melakukan apa yang disukainya, sesuatu yang menjadi passion-nya selama ini.